(Menerjemahkan) Idiom “Clean House”

Saya tengah menyunting sebuah paragraf saat menemukan idiom ini.

Resist the urge to clean house

Penerjemah mengartikannya sebagai “Abaikan keinginan untuk membersihkan rumah.”

Konteks dalam kalimat ini adalah kerja sama tim. Karena merasa kurang pas, saya meluncur ke situs andalan: thefreedictionary.com dan menemukan idiom ini

idiom

Akhirnya saya sunting menjadi: Tahan keinginan untuk menyingkirkan anggota yang tidak diinginkan.

CMIIW :)

Pertama (dan Terakhir) ke Holycow Steak Hotel Surabaya

Disclaimer : ini review super telat yang saya tulis. Jadi tidak menjamin kondisi di TKP saat ini tetap sama/berbeda.

Oke, lanjut.

Saya senang sekali mengetahui Holycow buka cabang di luar Jakarta. Lebih senang lagi, kota yang beruntung itu Surabaya!

Jadilah suatu sore, tepat pukul 5 (open hour shift 2), saya jadi pelanggan pertama yang datang di shift itu. Saya pikir sepi, ternyata beberapa menit kemudian Holycow diserbu beberapa pengunjung. Dan bahkan sebelum saya selesai memesan, meja kanan-kiri saya sudah penuh. Sekelompok orang yang baru datang “terpaksa” menempati lantai 2. Buat saya, kesannya tempat ini hype banget dan sudah punya “nama” meskipun baru dibuka.

image

Sudut yang saya suka: pemanfaatan boks kontainer sebagai "ruang"

Saya pesan tenderloin dengan tingkat kematangan medium. Mantan pacar saya pesan yang sama. Sebagai pelengkap, saya pesan saute jamur.

Pesanan kami diproses sangat singkat! Makanan cepat datang. Jarang banget saya order steak sebegini cepatnya. Kesan pertama: tempting!

image

Dibandingkan resto lain yang side dish-nya memakai wortel dan buncis, Holycow melengkapi steak-nya dengan gaya Indonesia. Pakai tumis bayam dan tomat ceri.

Dengan semangat ’45, saya langsung mengiris daging tebal di hadapan saya. Tapi,,, langsung kecewa karena dagingnya cenderung mentah! Saya intip piring mantan pacar, dagingnya juicy dengan kematangan yang pas. Kesal? Jelas. Tapi karena sedang tidak ingin merusak mood, saya lanjutkan ke irisan berikutnya. Ternyata, justru semakin mau habis, kematangan dagingnya berubah! Makin akhir dagingnya makin cenderung medium. Keren, deh! Satu daging dengan gradasi kematangan. Chef-nya “keren” banget bisa masak gitu. *meh*

Tentang saute jamur, saya suka. Bawang putih, asin, dan jamurnya pas. Ini relatif, karena tidak semua orang suka jamur.

Bagian okenya, Holycow juga punya menu untuk “si kecil” dengan porsi mini tentunya.

image

Secara keseluruhan, imho, ada banyak tempat “karnivor” lain yang lebih oke dari Holycow di Surabaya. Saya pribadi yang sebelumnya berencana menjadi fans fanatik Holycow (terpengaruh hype di Jakarta dulu), jadi pikir-pikir 2 kali sebelum melampiaskan ke-karnivora-an saya ke tempat ini lagi.

La Vie en Rose (cover) by Daniela Andrade

Hold me close and hold me fast
The magic spell you cast
This is la vie en rose

When you kiss me, heaven sighs
And though I close my eyes
I see la vie en rose

When you press me to your heart
I’m in a world apart
A world where roses bloom

*And when you speak, angels, sing from above
Everyday words seem
To turn into love songs

Give your heart and soul to me
And life will always be
La vie en rose

 

Wearable Smartphones: Is it Real?

Sejak berlangsung pada 5 September 2014, ajang IFA menarik perhatian para pecinta gadget. Wajar memang, karena IFA yang tahun ini digelar di Berlin termasuk salah satu konferensi teknologi dan tradeshow gadget terbaru dari berbagai brand.

Dari laporan beberapa media online yang meliput IFA 2014, Sony memberi bocoran tampilan dan spesifikasi flagship terbarunya (Xperia Z3, Xperia Tablet Z3, dan Xperia Z3 Compact). Sementara itu, Samsung hadir dengan banyak varian, seperti Galaxy Note 4, Galaxy Note Edge, Gear S, dan Gear VR. Tak mau tertinggal, HTC menjawab kebutuhan para pecinta selfie dengan meluncurkan HTC Desire 820 berfitur kamera depan 8MP, software “Photo Booth” plus mode Live Make Up untuk after effect.

Semuanya lebih canggih, lebih mutakhir, dan lebih inovatif. Jika dibandingkan dengan awal tahun 2000-an, perkembangan smartphone jelas begitu pesat. Smartphone yang nge-hits di tahun tersebut yaitu Ericsson R380 yang menggunakan sistem operasi Symbian (OS pertama untuk smartphone).

https://i0.wp.com/blackeyed.narod.ru/mobile/ericsson/EricssonR380.jpg

Generasi 80-an pasti familier dengan penampakan gadget ini

Kemudian, tahun-tahun berikutnya, lahir smartphone-smartphone baru. Misalnya saja Blackberry 850 sebagai smartphone pertama buatan RIM (2002), HTC Dream sebagai smartphone Android pertama (2008), Motorola Droid yang mendukung fitur internet dan multimedia (2009).

Kemudian, dalam rentang waktu 5 tahun, ponsel-ponsel yang dulu berlayar hitam-putih dan hanya bisa memainkan game Snake tiba-tiba tergantikan oleh ponsel cerdas berlayar kaya warna, mendukung aktivitas Social Media apa pun, berlayar sentuh, anti-air, tahan banting, dan fitur canggih lainnya. Belakangan, teknologi bahkan telah menjurus ke arah layar lentur dan permukaan “self-healing”. Benar. Semua itu hanya dalam rentang waktu 5 tahun.

Namun ketimbang pengumuman rilis smartphone teranyar, perhatian saya pada berita IFA 2014 entah mengapa tertawan oleh kehadiran smartwatch yang semakin menjamur.

Mungil, stylish, multifungsi.

Buat saya, smartwatch punya arti sederhana: watch = jam; smart = pintar; jadi smart watch = jam pintar. Bukan hanya jam yang bisa menampilkan informasi waktu, melainkan juga dilengkapi aneka fitur yang memudahkan hidup kita. Misalnya saja, dilengkapi GPS untuk panduan arah, memiliki fitur untuk menampilkan notifikasi panggilan/SMS masuk (smart watch generasi terbaru bahkan bisa digunakan untuk menelepon dan menjawab telepon via Bluetooth), dan yang sedang nge-tren akhir-akhir ini yaitu kemampuannya untuk mencatat aktivitas kesehatan kita.

 

 

Berbagai brand menelurkan seri masing-masing yang diklaim paling “pintar”. Dari penelitian kuartal 1 tahun 2014 yang dilakukan Smartwatch Group, pasar smartwatch dikuasai oleh Samsung. Di ajang IFA 2014, Samsung juga memperkenalkan smartwatch terbarunya: Galaxy Gear S. Fiturnya jelas menarik: Super AMOLED Display; konektivitas via 3G, Wi-Fi-Bluetooth yang memampukan pengguna menerima-melakukan panggilan telepon atau membaca SMS – bahkan mampu mengirim SMS langsung dari Gear S; S-Voice terbaru; personal fitness monitor; serta lainnya.

Sekilas, saat ini semua kebutuhan berkomunikasi praktis telah ada dalam satu smartwatch. Namun di masa mendatang, menjadikan smartwatch sebagai satu-satunya teman beraktivitas dan berkomunikasi terasa kurang sempurna.

Para vendor masih perlu menjawab tantangan pengguna akan sebuah perangkat komunikasi berfitur layaknya smartphone namun bisa dipakai. Hadirnya layar lentur dari LG di akhir 2013 sedikit banyak memberikan harapan tentang wearable smartphone. Sementara LG terus berinovasi, Philips pun tak ingin ketinggalan menggarap konsep wearable smartphone dalam seri Philips Fluid.

philips-fluid-smartphone_11_cMR1v_52.jpg (550×315)

Philips ingin menghadirkan sebuah smartphone yang fleksibel – mampu digunakan sebagai smartphone berlayar OLED (Organic Light Emitting Diodes) dengan belasan aplikasi, lalu ketika selesai digunakan mampu diubah dalam bentuk gelang. Selain OLED, Philips mengusung beberapa teknologi lain yaitu layar fleksibel, baterai fleksibel, interior dalam ponsel yang disusun dalam bentuk segmen, dan pengait gelang yang kuat. Sayangnya ketika bertransformasi dalam wujud gelang, Philips Fluid tidak berfungsi sebagaimana smart watch.

Dibandingkan dengan teknologi yang akan disematkan dalam wearable smartphones, tantangan yang tak kalah penting untuk dijawab yaitu harga produksi (dan harga jual, secara otomatis). Ketika wearables martphone terwujud nyata dan berhasil menarik banyak mata, harga jual yang masuk akal juga patut diperhitungkan.

Jika dulu pembuatan pesawat terbang diawali akan impian kendaraan terbang, bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang, akan muncul generasi wearable smartphone seutuhnya – yang mampu men-support banyak fitur, baik saat berupa bentuk smartphone maupun smartwatch. Dan tentunya, ramah kantong dan tabungan.

Sejenak Wisata Kuliner Bernuansa Alam di Pondok Desa Kampung Telaga Batu

Masih tak jauh-jauh dari review saya kemarin, kali ini saya dapat kesempatan mampir di Pondok Desa Kampung Telaga.

Untuk masuk ke restoran, cukup ikuti anak tangga yang ada di pintu gerbang. Begitu melangkah turun, sebuah kolam ikan superbesar menyambut tepat di depan resto. Tak lupa pula perahu mini dan bola apung yang bisa disewa.

image

Saya suka dengan ornamen pelengkap interiornya, seperti lampu (yang berbeda bentuk di setiap area), hiasan pojok ruang, gamelan, hingga high-chair bayi yang terbuat dari kayu.

image

image

image

Kalau dilihat-lihat lagi, kompleks restoran ini saaangat luas. Anda bisa juga turun lagi ke bawah dan memilih tempat makan di gazebo.

Bawa anak kecil? Tenang,,, ada playground mini untuk menjaganya tidak bosan.

image

image

Untuk menu, mayoritas seafood. Dari semuanya, saya suka Ikan Nila Sarang Telur. Nila-nya segar dan renyah!

image

Tertarik membawa banyak rombongan? Jangan kuatir,,, Pondok Desa Kampung Telaga dilengkapi dengan lapangan parkir yang superluas. Selamat makan.

Resto Unik Ria Djenaka, Batu, Malang

Warga Malang dan sekitarnya pasti sudah akrab dengan Ria Djenaka Coffee & Resto. Resto yang menghadirkan nuansa Malang tempo doeloe ini bisa Anda kunjungi di Jl. Bandung No. 5, Malang.

Beberapa minggu lalu, saya berkesempatan mencicipi nuansa klasik Ria Djenaka. Namun bukan di Malang, melainkan sedikit melipir ke area Jl. Ir. Soekarno, Batu – cabang yang baru dibuka.

Saya disambut 2 sepeda onthel tua di pelataran, radio lawas di area lobby, dan beragam pernik kuno lainnya.

image

image

Lobby resto memang menarik, namun bagian yang menurut saya lebih catchy justru area “terbuka” di lantai 2 dan lantai 3. Pasalnya, area tersebut dibangun menggunakan container! Karena saya ndeso, buat saya ini pengalaman unik tersendiri.

image

image

Penampakan dari dalam container

Lampu di dalam container pun unik!

image

Buat yang mau singgah di sini untuk reuni atau sekadar menghabiskan waktu kala insomnia, Ria Djenaka Coffee & Resto buka 24 jam!

image

image

Cak Transport, Ojek Terpercaya di Surabaya

Suatu pagi, Juli 2014, di pinggiran Surabaya yang semakin padat dan macet.

Saya perlu pergi ke suatu tempat. Masalahnya, suami saya pergi ke bengkel mobil, sementara adik saya pergi ke kantor. Dan karena saya bukan kaum brahmana yang punya banyak kendaraan, saya pun kebingungan. Solusi tergampang: naik taksi. Dan, ya, kalau ini bukan Senin pagi, saya pasti tidak berpikir dua kali untuk menekan deretan nomor telepon sopir taksi langganan.

Ini Senin pagi. Dan macet di ruas jalan Gunungsari bisa menguras emosi saya.

Di tengah kegalauan saya, ibu saya mengusulkan untuk menggunakan layanan Cak Transport – taksi roda dua. Katanya sih, ada tetangga saya yang hobi menggunakan layanannya. Terlebih, pangkalan ojeknya berada di daerah Wiyung – tak jauh dari rumah saya, Merasa tak punya pilihan, saya pun meminta kontak “taksi” tersebut, menelepon dan meminta dijemput di rumah setengah jam berikutnya.

Sesuai waktu yang dijanjikan, Cak Transport pun datang.

Kesan pertama, saya terpesona :D

Ini nih penampakan Cak Transport yang keren ituh

Kesan kedua, saya merasa kampungan banget karena tidak mengetahui keberadaan taksi roda dua sekeren ini di Surabaya. Kalau di Jakarta sih saya tahu emang ada karena dulu pernah pakai jasanya. Kalau di Surabaya benar-benar baru tahu sekarang.

Cak Transport ini layanan taksi roda dua. Motor yang dipakai keluaran terbaru, dengan warna kuning spotlight. Seolah ingin tampil serasi, pengemudinya pun memakai vest kuning bertuliskan identitas perusahaan Cak Transport di bagian belakang. Turut melengkapi, helm kuning couple – untuk penumpang dan pengemudi. Dan ada kotak penghitung argonya!

Untuk naik taksi ini, cukup hubungi nomor hotline Cak Transport. Tentukan jam dan lokasi penjemputan. Cak Transport pun akan segera menjemput dan mengantar Anda selamat sampai tujuan.

Cak Transport – Solusi Transportasi Kota