From Compost With Love: Berdayakan Rumah Tangga

mahasiswa saat memperkenalkan komposter

Think Global, Act Local. Ungkapan itu rupanya mengilhami mahasiswa/i D3 Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya untuk melakukan aksi nyata untuk lingkungan (03/05/09). Dengan tajuk From Compost With Love, pihak panitia menyampaikan bentuk kepedulian dan kecintaan terhadap bumi yang diwujudkan dalam suatu kegiatan penyuluhan komposter untuk rumah tangga. “Sampah non-organik mampu diolah dengan recycle atau reuse. Namun, kita juga harus memberikan perhatian pada pengolahan sampah organik di level rumah tangga. Karena jika tidak ditangani, tumpukan sampah ini akan sangat mengganggu dan menjadi masalah besar,” ungkap Friska R., penanggung jawab acara.

Di Surabaya sendiri program pengolahan sampah organik dengan komposter telah marak disosialisasikan. Namun sosialisasi yang ada belum menjangkau desa-desa kecil di pinggiran kota. Hal itu menyebabkan belum banyak warga yang menerapkan komposter untuk mengolah sampah di rumah masing-masing. Karena itu, panitia memilih sebuah desa di wilayah Keputih sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan. Desa ini dipilih karena selain warganya belum mengetahui cara-cara pengolahan sampah organik, warga desa juga memiliki kebun sayuran. Sehingga, sisa sayuran dan sampah organik menjadi sumber limbah rumah tangga terbesar di desa tersebut.

tong komposter yang telah berisi sampah

Kegiatan penyuluhan berlangsung dari pagi sampai tengah hari. Para warga desa dengan antusias mengikuti rangkaian acara yang ada. Di awal acara, warga menerima penjelasan tentang pentingnya memilah sampah — organik dan non-organik. Penyuluh juga menjelaskan, sampah organik yang dapat digunakan untuk membuat kompos tidak hanya dapat diperoleh dari sisa-sisa sayuran/buah-buahan. Namun sekam padi, daun-daunan, juga tulang sisa makanan pun dapat dipakai. Kemudian, mahasiswa/i penyuluh menjelaskan tentang alat pengolah sampah (komposter) dan proses pengolahan sampah. Penyuluh menjelaskan bahwa dengan komposter,warga desa akan menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah. Warga pun dapat mengurangi volume/ukuran limbah, juga mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah. Apalagi karena kompos yang dihasilkan dapat meningkatkan kesuburan tanah dan meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen).

Setelah selesai menjelaskan dasar-dasar pengolahan sampah dengan menggunakan komposter, penyuluh mengajak warga untuk mempraktekkan materi secara langsung. Praktek dilakukan di tanah lapang yang ada di tengah desa. Pertama, warga desa dibagi menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok akan ditemani oleh satu panitia untuk memperlancar jalannya praktek. Lalu, warga mulai memilah sampah organik dan non-organik. Warga memasukkan sampah-sampah yang telah dipisahkan ke dalam tong-tong komposter yang telah disediakan oleh panitia. Panitia di tiap-tiap kelompok membantu warga memilah sampah.

penambahan bakteri EM4

“Komposter yang dipakai terbuat dari tong, sehingga tidak memakan lahan yang luas. Jika tidak mampu membeli, komposter ini dapat dibuat dengan mudah,” kata Genta Arias, ketua panitia. Masih menurut ketua panitia, proses pengolahan sampah yang benar tidak akan menciptakan belatung di tong komposter. Selain itu, kompos yang dihasilkan juga tidak akan berbau.

Selanjutnya, panitia pada tiap kelompok menambahkan cairan kimia (larutan bakteri EM4) yang berguna untuk mempercepat proses pembusukan. Cairan ini dapat diperoleh di toko bahan kimia. Warga begitu serius memperhatikan panitia. Sesekali, terjadi tanya jawab dan senda gurau diantara warga desa dan panitia. Setelah sampah dan larutan kimia teraduk rata, komposter pun ditutup. Selanjutnya, setiap bulan warga harus membuka komposter dan mengaduk sampahnya untuk memperlancar sirkulasi udara. Warga mengikuti kegiatan praktek dengan tertib.

“Aksi lokal pada level rumah tangga tersebut merupakan aksi yang paling efektif untuk mengatasi permasalahan lingkungan, terutama sampah. Bagaimana pun juga, permasalahan lingkungan menjadi tanggung jawab kita semua.” kata Genta saat menutup acara.

Kompetisi Website Kompas MuDA – KFC : Bangga Indonesia

Kompetisi Website Kompas Muda – KFC ini mengingatkan saya dengan kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu.. Kejadian ‘sindiran’ tentang kebanggaan saya terhadap Indonesia..

Sejak Pak Ut tidak bekerja di rumah, terpaksa tugas ‘antar jemput’ diserahkan ke saya. Jadi tiap jam setengah 8 pagi dan jam setengah 5 sore saya pasti bisa ditemui di tempat Ayah saya bekerja. Dan kemarin sore, seperti biasa, saya sudah duduk manis di lobi. Menunggu penampakan Ayah tercinta. Dan voilaaaa… Saya pun melihat Ayah saya berjalan mendekat. Dan di sampingnya ada 2 bule!! Satu bule yang kira-kira sedikit lebih muda dari ayah saya. Sebut saja Uncle Tom. Satunya lagi anak Uncle Tom yang internship di Indonesia mulai bulan Maret, sebut saja May. Hubungannya dengan bangga Indonesia yang jadi tema Kompetisi Website Kompas MuDA- KFC? Sabaaar.. Simak saja obrolan singkat diantara May dan saya yang terjadi kemudian.
*isi perbincangan sudah saya terjemahkan demi kenyamanan pembaca sekalian. wkwkwkwk :D

May (M) : Sari, saya internship setengah tahun. Selama di sini, saya ingin sekali belajar budaya Indonesia. Saya suka sekali dengan tari Saman. Di mana kira-kira saya bisa belajar tari Saman?

Saya mulai berpikir.. Bukan berpikir di mana mencari sanggar tari, tapi berpikir tari Saman itu tari yang bagaimana.. Aduh payahnya saya…… trus trus?

Bed Rest — 5 Minutes Update

Jadi, kemana kah saya selama ini?

Umm.. Beberapa waktu lalu saya cuti sementara dari kerjaan buat fokus sama urusan skripsi. Jadi wajar kalau ada beberapa orang yang mempertanyakan kehadiran saya di tempat kerja. Kemudian, bagaimana nasib skripsi saya? Sayangnya, tidak berjalan lancar seperti harapan saya.

Saya tau dan sadar, menyerah atau putus asa sangat tidak disukai oleh Tuhan. Juga fakta bahwa pelaut yang tangguh tidak dibentuk oleh lautan yang tenang. Oleh karena itu, saya tidak ingin menyerah begitu saja walaupun pada kenyataannya, mengharuskan saya berjuang sendiri. Menempa diri, mengeraskan hati. Tapi alarm tubuh saya telah berbunyi, dan lusa kemarin saya collapse. Nasihat dokter, yaaaa sama aja.. seperti dokter-dokter pada umumnya : saya harus bed rest, duduk manis, tidur-tiduran, memikirkan hal yang menyenangkan, menjauhi stres, kalau perlu berlibur. Whaaaat? Berlibur? Kerjaan saya masih banyak, Pak Dokteeeerrr………

Sedih? Jelas. Karena dengan begitu lagi-lagi kuliah saya molooor. Ditambah fakta mengecewakan beberapa orang dan harus collapse. Sigh. Menyebalkan. Tapi untuk waktu-waktu berjuang dan belajar kemarin, no regret at all.

Apakah saya menyerah? Tidak. Saya masih memperjuangkan kelulusan saya pastinya. Lalu kejadian collapse kemarin, saya rasa saya mendapat hikmahnya. Paling tidak sekarang, saya tau pasti kapasitas diri saya. Iya, Tuhan.. Maafkan saya yang tidak menyadari bahwa tiap manusia terlahir dengan peran dan kapasitasnya masing-masing. Maafkan saya yang telah menyakiti tubuh titipanMu ini.

*Biasa.. Bawaan demam : suka meracau tidak jelas. Aaaaaah.. Saya benci jadi ‘tahanan’ bed rest. Cuma bisa gulung-gulung kanan-kiri di atas kasur, ga bisa ngapa2in, maen henpon, apdet juga via henpon :cry:

KTT Perubahan Iklim Copenhagen

Saya tahu Surabaya memang kota dengan cuaca yang sangat panas. Tapi buat saya yang dari orok sudah lahir dan besar di Surabaya, cuaca di Surabaya akhir-akhir ini jaaaauh lebih panas daripada biasanya. Iklim sudah berubah rupanya. Ketidakseimbangan terjadi di mana-mana. Serba timpang tindih.

Para pemimpin negara dari berbagai belahan dunia pun melaksanakan suatu konferensi tingkat tinggi tentang perubahan iklim ini di Copenhagen, Denmark. Harapannya, muncul suatu resolusi bersama untuk ‘menyelamatkan bumi’. Bayangkan saja, jika pemanasan global terus menerus terjadi dan jumlahnya meningkat, dapat dipastikan es di kutub akan mencair. Konsekuensinya? Jelas saja negara-negara kepulauan di sekitar kutup akan tenggelam. Indonesia? Mungkin saja.. Entah berapa tahun lagi.

Baru-baru ini, pemimpin dunia dari berbagai belahan dunia membicarakan isu global perubahan iklim ini dalam sebuah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim di Copenhagen, Denmark. Menurut BBC News, ada beberapa hal yang berhasil diubah oleh Copenhagen : apa saja sih hasilnya?

MICROSOFT BLOGGERSHIP 2010 : Jelas Berbeda di Desa

Foto-foto ini diambil saat saya dan teman-teman kuliah di T.Informatika ITS Surabaya mengadakan satu kegiatan yang diberi nama ‘TC Goes To Village‘. Pencarian data ‘buta huruf terbanyak’ di Badan Pusat Statistik (BPS) mengantarkan kami ke suatu desa di Pasuruan, Jawa Timur. Asumsi kami, desa dengan tingkat buta huruf terbanyak merupakan desa yang memiliki tingkat pendidikan rendah.

Miris. Iya. Miris. Di saat kami -yang notabene mahasiswa IT- sudah sangat akrab dengan internet, messenger, virtual class, SIM Akademik online, forum diskusi online dan lain-lain, mereka di sana justru belum pernah ‘berkenalan’ dengan komputer dan laptop. Keadaan jelas berbeda di desa tersebut.

Mayoritas penduduk di desa tersebut mendapatkan sumber penghasilan dari aktifitas dagang. Kegiatan kami di sana akan berbagi pengetahuan tentang pengenalan dasar komputer, dan aplikasi-aplikasi yang dapat digunakan di sekolah untuk menunjang proses belajar-mengajar seperti aplikasi-aplikasi MS Office. Di luar dugaan, berita tersebut ternyata telah didengar oleh penduduk desa. Saat kami datang saja, penduduk-penduduk yang menemui kami tampak sangat antusias bertanya-tanya tentang materi yang akan kami ajarkan esok hari. Kami mengambil lokasi pengajaran di salah satu sekolah di desa tersebut. Target peserta yang akan mengikuti acara ini adalah murid-murid MTs dari kelas 7 s.d. kelas 9. Selain itu pula, guru dan perangkat desa juga mengikuti acara ini.

Saya, teman-teman saya, blogger, dan bahkan Anda… saya yakin dengan gampangnya mengakses internet, blogwalking bahkan dari teknologi mobile. Akun FS saja pasti sudah dimiliki sejak bertahun lalu. Buat saya juga sudah bukan hal yang aneh jika kami -mahasiswa T.Informatika ITS Surabaya- berinteraksi dengan dosen tentang mata kuliah melalui forum, atau bahkan mengetahui info-info dari FB dan Twitter. Juga tak asing lagi saat kami harus melakukan conference untuk suatu mata kuliah dan ujian secara online. Tapi hal tersebut tidak berlaku di sana. Jangankan mobile atau social network, untuk menyalakan komputer saja, mereka masih belum bisa. Eits, saya serius dan tidak mengada-ada. Karena nyatanya, cita-cita pemerataan pendidikan dan teknologi informasi di negara kita masih belum menyentuh mereka yang berada di desa kecil.

Para peserta sangat antusias mengikuti tiap sesinya dengan penuh perhatian seolah tak ingin melewatkan tiap butir pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Duduk di lantai tanpa alas pun tidak masalah. Tidak sebanding dengan ilmu yang akan mereka terima.

Tak hanya pengenalan komputer, kami pun memberikan materi aplikasi perkantoran dasar dari Microsoft yaitu MS Word dan MS Powerpoint. Di ruangan berbeda, materi tersebut tidak diberikan dengan menggunakan komputer, melainkan laptop/notebook. Peserta yang terdiri dari murid-murid SMP tersebut rupanya memicu rasa ketertarikan bocah SD di desa tersebut. Mereka ingin sekali merasakan pengalaman mengoperasikan komputer/laptop juga membuat presentasi. Tak tega melihat semangat dan rasa penasaran mereka, kami pun mengijinkan mereka masuk dan bergabung bersama kakak-kakak mereka yang sudah duduk di bangku SMP dengan catatan bersedia untuk rapi dan tidak gaduh.

Mengenal notebook pada awalnya membuat mereka di sana ragu. Namun, perlahan mereka menikmati materi dan dengan asiknya mencoba membuat presentasi menggunakan aplikasi MS Powerpoint. Dimulai dengan membuat desain tiap slide yang ada, kemudian menambahkan animasi-animasi, dan menjalankan presentasi yang telah dibuat. Senyum dan tawa riang menyiratkan betapa menyenangkannya hal-hal baru tentang komputer dan teknologi informasi untuk mereka. Belajar secara sederhana dengan presentasi powerpoint saja sudah memberikan suasana yang jauh berbeda. Lebih hidup, dinamis, dan bersemangat.

Tiga hari di sana sebenarnya belum cukup untuk membagikan lebih banyak ilmu. Sebelum pulang, kami memberikan beberapa perangkat komputer yang dapat digunakan untuk menunjang proses belajar-mengajar di sana. Keberadaan kami di sana hanyalah awal, sebuah investasi kecil yang jika dipupuk akan berbunga indah. Siapa tahu saja dua puluh lima tahun ke depan, justru anak-anak desa yang awalnya ‘gaptek’ ini lah yang akan menjadi Menkominfo Indonesia :)

rindu senyuman lugu mereka :)

Sekecil apa pun, sesederhana apa pun, bentuk kepedulian kita untuk menyampaikan kemajuan teknologi informasi kepada masyarakat dapat menciptakan kualitas pendidikan yang lebih baik. Terlebih lagi, jika kita bekerja sama menyebarkan pengetahuan sampai ke pelosok desa, kita bisa membantu pemerintah untuk perataan pendidikan dan cita-cita bangsa bagian ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’ seperti tercantum pada alinea empat pembukaan UUD 1945 pun dapat tercapai. Salah satu bentuk yang dapat dilakukan yaitu dengan program MICROSOFT BLOGGERSHIP yang memberikan kesempatan kepada narablog muda untuk berkontribusi di masyarakat dalam bidang pendidikan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan kreatif. Pendidikan merupakan tanggung jawab kita semua… Bukan begitu, saudara-saudara? :D

Siapa Bilang Orang Tua Berhenti Belajar?

Saat istirahat makan siang di kantor, saya mendapat telfon dari sebuah nomor tak dikenal. Baru setelah berbincang sebentar, saya jadi ingat suara di seberang telfon itu. Menyapa saya dengan, ‘Mbak Sari, masih ingat saya? Saya Rizki, Mbak.. Mahasiswa PIKTI.’

Ooooh.. Saya hanya menjawab dengan ‘O’ panjang sebelum perbincangan singkat pun mengalir. Saya dan Pak Rizki berkenalan tahun lalu. Saat saya menjadi asisten dosen mata kuliah Software Perkantoran di sebuah lembaga pendidikan profesi. Berbeda dengan hari biasa, Senin-Jumat, hari Sabtu merupakan hari untuk kelas ekskutif. Awal bergabung di sana sebenarnya cukup membuat saya syok. Karena bukan anak-anak seusia saya yang ada di sana, melainkan bapak-bapak dan ibu-ibu yang sepertinya berusia sepuluh tahun lebih tua daripada saya.

Saya pun sadar, dan membenarkan kalimat, ‘Tak ada kata terlambat untuk belajar.’ Pun dalam prosesnya, semakin banyak tantangan yang harus dihadapi. Para tenaga ajar yang terlibat di dalamnya pun harus memiliki tingkat ketelatenan dan kesabaran yang ekstra. Misalnya saja untuk mata kuliah tersebut (Software Perkantoran), kesalahan dan pertanyaan yang diungkapkan oleh peserta ajar sangat sederhana. Kurang tanda titik, lupa menyimpan dokumen yang telah dibuat, atau lamanya waktu untuk dapat menyelesaikan satu dokumen tugas. Namun, di situ lah para pengajar harus telaten untuk memberikan pengajaran.
Saya masih ingat dulu, setelah break istirahat siang kelas eksekutif dan berbincang santai dengan para murid di sana, hampir semua bapak dan ibu yang ada mengeluh karena pelajaran yang diberikan sangat susah. Saya pikir, mereka akan menyerah. Namun, nyatanya.. Semangat untuk tak henti belajar membuat mereka datang kembali di minggu depan.

Back to the topic. Telfon Pak Rizki tadi siang hanya ingin sekedar menyapa, memberitahukan nomor barunya, sekaligus pamit. Pak Rizki yang menurut cerita beliau telah mahir menggunakan software perkantoran akhirnya naik pangkat, dan dipindahtugaskan ke Semarang. Saya jadi turut bahagia mendengarnya. Kalau saat itu Pak Rizki menyerah dan berhenti belajar, mungkin sekarang beliau tidak sedang berkemas ke Semarang :)

Jadi, siapa bilang orang tua berhenti belajar?
Kita yang muda-muda ini, malu dong sama Pak Rizki kalau kita males-malesan :p

eRepublik

Saya pernah mikir, gimana rasanya ada di suatu negara kecil, trus ikut organisasi, gabung di partai, masuk militer, de el el. Dan pada suatu hariiiii, saya dapet invite buat gabung di eRepublik. Apa sih itu?

eRepublik ini merupakan salah strategy game. Tapiii.. bukan macem DotA dkk. Di sini, setiap warga negaranya punya kekuatan untuk membuat perubahan dan memenuhi target ekonomi, politik, dan militer. Tergantung pinter-pinternya kita buat atur strategi deh.

Wups.. Saya juga ga mau spoiler banyak-banyak. Orang saya juga masih nyubi. Kalo kata adminnya sih, permainan ini awalnya membosankan. Karena kita cuma bisa kerja jadi kuli, beli makanan, ama latian. Tapi janjinya sih, kalo level kita udah tinggi kita bisa melakukan banyaaak hal seperti ikutan congress, bahkan bisa mencalonkan diri jadi presiden. Jadi sodara-sodaraaa.. Kalo berani dan ngerasa jago atur strategi, apalagi ampe jago ngatur negara, coba deh ikut gabung di sini.

Update

Waktu saya cek email, ternyata masih ada email notifikasi komen baru di blog ini. Saya terharu. Ternyata masih banyak yang suka baca-baca tulisan-tulisan saya. Terima kasih, sodara-sodaraaaaa…
*nangis haru*

Padahal, sodara-sodara.. Sudah beberapa hari ini saya pindah ke rumah baru. Di sana nanti saya cerita liputan singkat tentang Youth Engagement Summit (YES) 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia. Bukan dengan receh di kantong saya. Semuanya free, bahkan dapet uang saku. Hanya saja, sepulangnya dari sana ada rasa sesak di dada untuk memikirkan apa-apa yang dapat saya berikan untuk negara ini. *ciyeh.. bahasanyaaa..

Lalu…?

Saya juga mo ngajakin sodara-sodara yang ada di sini buat gabung sama saya di Pendekar Anak. Nah loooo.. Apaan itu? Baca-baca di sini dulu ya sebelom saya update-update lagi :D

Pamiiiiit

Sodara-sodara,
Sebenarnya saya tidak tega untuk menyampaikan hal ini..
Tapiiii
Tapi, Sodara-sodara…
Saya harus mengatakannya juga.
Saya mau pamiiiiit
Blog ini mau pindahan
Tapi karena kavling rumah blog yang baru belom selesai tahap finishing-nya..
Alamat rumah barunya nanti saya woro-woro lagi kok.
Tenang sajaaaah
Don’t miss me!! :D
*mendengar sodara-sodara bersuara ‘gak bakal’ secara lantang*