Toko Suami

Aku masuk ke sebuah toko eksklusif. Toko itu punya nama yang cukup unik. Toko ‘Suami’. Aku memperoleh info tentang toko itu dari sebuah pamflet yang diberikan padaku seusai sholat tarawih kemarin. Toko itu bagus, tampak mewah dan elegan. Seperti nama tokonya, peraturan di toko tersebut juga unik.

Toko tersebut terdiri dari enam lantai dimana pengunjung hanya boleh datang satu kali dan hanya diperbolehkan membeli suami di lantai yang dikunjungi. Alur jalan satu arah sehingga pembeli tidak dapat kembali ke lantai yang telah dikunjungi. Pembeli hanya diperbolehkan kembali ke lantai sebelumnya jika pembeli tersebut ingin keluar dari toko. Aku tersenyum, dan melangkah menaiki tangga.

Di lantai satu toko tersebut, suami-suami yang ditawarkan sangat menggiurkan.
Suami di lantai satu merupakan suami-suami yang taat beribadah dan pintar.
Humm.. Maish di lantai satu saja suami yang dijual sudah berkualitas. Bagaimana dengan lantai dua ya? Rasa penasaranku membuat kakiku melangkah menaiki anak tangga ke lantai berikutnya.

Lantai dua toko tersebut ternyata tidak kalah mengagumkan dibanding dengan lantai satu.
Suami di lantai dua merupakan suami-suami yang taat beribadah, pintar, dan tampan.
Wow.. Berbeda satu lantai saja suami yang dijual lebih baik. Pasti suami di lantai tiga leih baik dari lantai-lantai sebelumnya. Dengan penuh semangat aku berjalan menuju lantai tiga.

Tepat seperti yang telah kuperkirakan. Suami yang dijual benar-benar memiliki nilai plus dibanding sebelumnya.
Suami di lantai tiga merupakan suami-suami yang taat beribadah, pintar, tampan, dan penyayang anak-anak.
Aku terdiam. Membayangkan suami di lantai berikutnya benar-benar membuatku penasaran. Dengan penuh rasa takjub aku berjalan ke lantai berikutnya.

Rasa takjubku semakin besar saat aku mengetahui kriteria suami yang dijual disana.
Suami di lantai empat merupakan suami-suami yang taat beribadah, pintar, tampan, penyayang anak-anak, dan berbakti pada orang tua.
Wah wah.. Benar-benar suami ideal. Pasti beruntung sekali memiliki suami seperti suami di lantai ini. Tapi pasti akan lebih beruntung memiliki suami di lantai berikutnya yang pastinya akan semakin memiliki nilai plus.

Tak terasa aku sudah berada di lantai lima. Bertanya-tanya tentang suami yang bagaimana lagi yang akan dijual.
Suami di lantai lima merupakan suami-suami yang taat beribadah, pintar, tampan, penyayang anak-anak, berbakti pada orang tua, dan kaya.
Aku suka sekali dengan suami-suami yang dijual di toko ini. Benar-benar berkualitas. Kurang satu lantai lagi. Pasti suami yang dijual disana benar-benar yang terbaik dari yang terbaik.

Aku telah sampai di lantai enam. Lantai terakhir di toko ini. Aku sedikit terkejut karena tak melihat satu suami pun yang dijual.
Selamat. Anda orang ke-452.983 yang akan pulang dengan tangan kosong. Sifat dasar manusia yang selalu tak pernah puas dengan apa yang diberikan membuat Anda sampai di lantai ini. Silakan turun sampai lantai dasar dan mulailah belajar mensyukuri apa yang telah Anda dapat.

What an inspiring story. Cerita ini saya baca di sebuah majalah di tengah-tengah kebosanan saya pada jam kuliah X. Saya pun dengan senang hati menceritakan kembali kepada Anda semua. Tentunya dengan beberapa perubahan😀

15 thoughts on “Toko Suami

  1. pernah baca beberapa taon lalu😛
    trus juga yang muridnya siapa, yang disuruh cari ‘pacar’ sama ‘istri’ di hutan..
    bawa balik dengan hasil yang berbeda🙂

  2. Aku gak mau dipajang disitu wes, ntar malah gak dapet-dapet😛

    pertanyaannya ni:
    *statkom mode on*
    berapa persentase wanita yang memilih salah satu pria di toko suami itu dibandingkan dengan yang keluar dengan tangan hampa?

  3. si abang –> hehe.. mau beli yang ‘itu’ aj bang. *wkwkwkwk.. ndak jelas*😀

    mas daniel –> walah.. iyo untung.. kalo mas ad disana pasti tokonya bangkrut gara2 ndak ad yang mau dateng lagi ke toko itu:mrgreen:

    handy –> hmm.. yang mana ya.. yang ‘itu’ aj de.. yang limited edition😀

    mas hendra (lagi) –> berhubung saya belum lulus dari mata kuliah statkom.. jadi.. susah mas jawabny.. tapi sepertinya perbandingannya 1 : 1000😆

  4. mas dian –> Karena aku masih manusia.. Masih normal pula.. Kayake aku bakal pulang dengan tangan hampa😀
    Nyebelin si..
    Tapi ada ga ya yang pulang dengan membawa hasil😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s