Autistic Spectrum Disorder

Judul di atas menjadi topik utama yang saya pilih dalam sebuah kompetisi karya tulis mahasiswa sebulan yang lalu. Agak jauh menyimpang dari bidang studi yang saya ambil dalam perkuliahan memang. Sekedar pemberitahuan, kuliah saya berkitar pada bidang ICT. Pertanyaan yang banyak saya terima adalah, “Beneran informatika? Bukan anak psikologi? Kok informatika ngurusin masalah gini?” Banyak jawaban atas pertanyaan tersebut. Tapi bukan itu yang ingin saya sampaikan pada postingan saya kali ini.

Autistic Spectrum Disorder. Apa si?

Autistic Spectrum Disorder (baca : autis, red.) menurut Baron-Cohen merupakan kondisi seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita yang membuatnya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Beberapa ciri penderita autis yang dominan adalah keterbatasan kemampuan komunikasi dan sosialisasi. Hal ini termasuk keterlambatan bicara (dibandingkan anak normal), susah berkonsentrasi pada suatu hal, dan tidak adanya kontak mata dalam berkomunikasi. Beberapa ciri tersebut menyebabkan penderita autis cenderung terlihat hidup di dunia sendiri.

Sebuah fakta dari dinas pendidikan luar biasa menyebutkan bahwa penderita autis semakin meningkat tiap tahunnya. Penyebab pasti dari autis masih belum diketahui dengan jelas. Namun, banyak ahli berpendapat bahwa autis dapat disebabkan oleh faktor genetis, makanan yang terkontaminasi logam berat yang dikonsumsi ibu penderita saat hamil, juga tempat tinggal yang dekat dengan industri logam berat. Sehingga, jumlah penderita autis di negara maju lebih besar daripada di negara berkembang.

Satu pertanyaan besar yang juga sering dipertanyakan adalah, “Apakah penderita autis dapat disembuhkan?” Sebentar.. Gini buk… Tentukan terlebih dahulu parameter sembuh total itu bagaimana. ASD bukan merupakan penyakit yang setelah diberikan obat sesuai dosisnya akan menyebabkan kesembuhan 100% pada penderita.

Yang jelas, dengan penanganan yang baik dan benar, tingkat keautisan penderita dapat berkurang. Kemudian muncul pertanyaan lain, “Bagaimana menangani penderita ASD?”, “Bagaimana memberikan pendidikan kepada mereka?” Gampang-gampang susah buk. Menurut literatur yang pernah saya baca, metode penanganan pendidikan untuk penderita autis dibagi dua. Layanan pendidikan awal dan layanan pendidikan lanjutan.

Layanan pendidikan awal disini berupa pemberian terapi. Di Indonesia sendiri, jenis terapi yang banyak digunakan adalah terapi ABA (Applied Behavior Analysis). Terapi ini kemudian ditunjang dengan terapi-terapi lain yang disesuaikan dengan kebutuhan penderita.

Setelah pemberian pendidikan awal dengan bentuk terapi, penderita dapat menerima pendidikan lanjutan di kelas khusus, sekolah luar biasa, atau homeschooling. Namun tidak menutup kemungkinan jika penderita menerima pendidikan di sekolah umum. Tentunya, sekolah tersebut adalah sekolah yang menerapkan program inklusi.

Pertanyaan pun semakin bertambah. “Apakah dengan memasukkan penderita autis ke sekolah umum, akan semakin mengurangi tingkat keautisan sang anak?”

Penderita autis juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dengan memasukkan penderita autis ke sekolah inklusi, dia akan meniru sikap atau perilaku anak normal. Proses duplikasi sikap normal tersebut diharapkan mengurangi tingkat keautisan penderita. Terlebih lagi, lingkungan yang kompleks di sekolah umum akan meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi mereka jika dibanding dengan lingkungan yang hanya berisi teman dengan indikasi autis yang sama.

5 thoughts on “Autistic Spectrum Disorder

  1. sometimes geniuses were born autistic, their greate intelect were traded with their inability to socialize and communicate with others around them.

    Sari said : Nice theory😀

  2. Cinta Ananda memberikan terapi pada anak-anak autis. Terapi menggunakan program individual, yakni satu terapis untuk satu anak.
    * Terapi Wicara, untuk anak terlambat bicara dalam usia 2 tahun ke atas
    * Terapi Perilaku, untuk anak autisme, ADHD, dan sejenisnya.
    * Terapi Akademik (membaca, menulis, menghitung) untuk anak yang lamban belajar.

    Cinta Ananda juga menyediakan Play Group khusus untuk anak-anak yang tidak bisa diterima di sekolah-sekolah umum karena gangguan;
    * Autisme
    * ADHD (hiperaktif)
    * Down Syndrome
    * Lamban belajar karena IQ di bawah rata-rata.

    Cinta Ananda
    Jl Raya Sukomanunggal Jaya blok BB – 26 Surabaya
    kawasan SCTV, depan Supermarket Sinar

    informasi lebih lanjut, hubungi Esti Diah Purwitasari S.Psi di 0317315136 atau 081332545355

    Sari said : Infonya sangat membantu sekali. Terima kasih, Bu🙂

  3. postingannya keren tuh…aq lagi skripsi ni ngambil ttg imitasi pd anak autis di sekolah inklusi…di paragraf terakhir kyanya mbak punya ckp bnyk referensi ttg itu..boleh aq minta ga???mksh ya sebelonnya.. ^_^

    Sari said : terima kasih🙂
    saya punya referensi juga beberapa narasumber yang bisa dihubungi.
    Untuk info lebih jelasnya, bisa hubungi saya via messenger atau email🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s