Wearable Smartphones: Is it Real?

Sejak berlangsung pada 5 September 2014, ajang IFA menarik perhatian para pecinta gadget. Wajar memang, karena IFA yang tahun ini digelar di Berlin termasuk salah satu konferensi teknologi dan tradeshow gadget terbaru dari berbagai brand.

Dari laporan beberapa media online yang meliput IFA 2014, Sony memberi bocoran tampilan dan spesifikasi flagship terbarunya (Xperia Z3, Xperia Tablet Z3, dan Xperia Z3 Compact). Sementara itu, Samsung hadir dengan banyak varian, seperti Galaxy Note 4, Galaxy Note Edge, Gear S, dan Gear VR. Tak mau tertinggal, HTC menjawab kebutuhan para pecinta selfie dengan meluncurkan HTC Desire 820 berfitur kamera depan 8MP, software “Photo Booth” plus mode Live Make Up untuk after effect.

Semuanya lebih canggih, lebih mutakhir, dan lebih inovatif. Jika dibandingkan dengan awal tahun 2000-an, perkembangan smartphone jelas begitu pesat. Smartphone yang nge-hits di tahun tersebut yaitu Ericsson R380 yang menggunakan sistem operasi Symbian (OS pertama untuk smartphone).

https://i0.wp.com/blackeyed.narod.ru/mobile/ericsson/EricssonR380.jpg
Generasi 80-an pasti familier dengan penampakan gadget ini

Kemudian, tahun-tahun berikutnya, lahir smartphone-smartphone baru. Misalnya saja Blackberry 850 sebagai smartphone pertama buatan RIM (2002), HTC Dream sebagai smartphone Android pertama (2008), Motorola Droid yang mendukung fitur internet dan multimedia (2009).

Kemudian, dalam rentang waktu 5 tahun, ponsel-ponsel yang dulu berlayar hitam-putih dan hanya bisa memainkan game Snake tiba-tiba tergantikan oleh ponsel cerdas berlayar kaya warna, mendukung aktivitas Social Media apa pun, berlayar sentuh, anti-air, tahan banting, dan fitur canggih lainnya. Belakangan, teknologi bahkan telah menjurus ke arah layar lentur dan permukaan “self-healing”. Benar. Semua itu hanya dalam rentang waktu 5 tahun.

Namun ketimbang pengumuman rilis smartphone teranyar, perhatian saya pada berita IFA 2014 entah mengapa tertawan oleh kehadiran smartwatch yang semakin menjamur.

Mungil, stylish, multifungsi.

Buat saya, smartwatch punya arti sederhana: watch = jam; smart = pintar; jadi smart watch = jam pintar. Bukan hanya jam yang bisa menampilkan informasi waktu, melainkan juga dilengkapi aneka fitur yang memudahkan hidup kita. Misalnya saja, dilengkapi GPS untuk panduan arah, memiliki fitur untuk menampilkan notifikasi panggilan/SMS masuk (smart watch generasi terbaru bahkan bisa digunakan untuk menelepon dan menjawab telepon via Bluetooth), dan yang sedang nge-tren akhir-akhir ini yaitu kemampuannya untuk mencatat aktivitas kesehatan kita.

 

 

Berbagai brand menelurkan seri masing-masing yang diklaim paling “pintar”. Dari penelitian kuartal 1 tahun 2014 yang dilakukan Smartwatch Group, pasar smartwatch dikuasai oleh Samsung. Di ajang IFA 2014, Samsung juga memperkenalkan smartwatch terbarunya: Galaxy Gear S. Fiturnya jelas menarik: Super AMOLED Display; konektivitas via 3G, Wi-Fi-Bluetooth yang memampukan pengguna menerima-melakukan panggilan telepon atau membaca SMS – bahkan mampu mengirim SMS langsung dari Gear S; S-Voice terbaru; personal fitness monitor; serta lainnya.

Sekilas, saat ini semua kebutuhan berkomunikasi praktis telah ada dalam satu smartwatch. Namun di masa mendatang, menjadikan smartwatch sebagai satu-satunya teman beraktivitas dan berkomunikasi terasa kurang sempurna.

Para vendor masih perlu menjawab tantangan pengguna akan sebuah perangkat komunikasi berfitur layaknya smartphone namun bisa dipakai. Hadirnya layar lentur dari LG di akhir 2013 sedikit banyak memberikan harapan tentang wearable smartphone. Sementara LG terus berinovasi, Philips pun tak ingin ketinggalan menggarap konsep wearable smartphone dalam seri Philips Fluid.

philips-fluid-smartphone_11_cMR1v_52.jpg (550×315)

Philips ingin menghadirkan sebuah smartphone yang fleksibel – mampu digunakan sebagai smartphone berlayar OLED (Organic Light Emitting Diodes) dengan belasan aplikasi, lalu ketika selesai digunakan mampu diubah dalam bentuk gelang. Selain OLED, Philips mengusung beberapa teknologi lain yaitu layar fleksibel, baterai fleksibel, interior dalam ponsel yang disusun dalam bentuk segmen, dan pengait gelang yang kuat. Sayangnya ketika bertransformasi dalam wujud gelang, Philips Fluid tidak berfungsi sebagaimana smart watch.

Dibandingkan dengan teknologi yang akan disematkan dalam wearable smartphones, tantangan yang tak kalah penting untuk dijawab yaitu harga produksi (dan harga jual, secara otomatis). Ketika wearables martphone terwujud nyata dan berhasil menarik banyak mata, harga jual yang masuk akal juga patut diperhitungkan.

Jika dulu pembuatan pesawat terbang diawali akan impian kendaraan terbang, bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang, akan muncul generasi wearable smartphone seutuhnya – yang mampu men-support banyak fitur, baik saat berupa bentuk smartphone maupun smartwatch. Dan tentunya, ramah kantong dan tabungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s